Pak Dzaki, Mie Ayam dan Kebahagiaan

Oleh Syaiful

Sore tadi saya menikmati lezatnya Mie Ayam di warung Pak Dzaki, warung mie ayam terenak di desaku, Sokorini. Cuaca yang sedang gerimis dan dingin menambah kenikmatan mie ayam panas itu. Usai melayani beberapa pembeli lain yang datang, Pak Dzaki duduk di sampiku. Dan kamipun asik berbincang membicarakan berbagai hal. Obrolan sederhana sore tadi menyimpan banyak makna bagiku. Tulisanku malam ini akan bercerita sedikit tantangnya.

Nama aslinya Pak Sunaryo, biasa dipanggil Pak Dzaki yang diambil dari nama anaknya yang masih duduk di bangku SD. Tahun 2005 ia masih bekerja di pencucian motor di Yogyakarta. Setelah lima tahun bekerja di sana, pada 2010 ia mencoba membuka usaha pencucian motornya sendiri di daerah Timoho bersama satu rekannya. Usahanya tidak semulus yang direncanakan. Banyaknya masalah membuat usahanya itu tutup hanya dalam waktu tiga bulan.

Pak Dzaki lalu pindah bekerja menjadi laden/pelayan di warung mie ayam di perempatan pasar Muntilan. Tugasnya mengantarkan pesanan mie ayam dan membuatkan minum bagi para pengunjung dan pedagang pasar. Ia mensyukuri pekerjaan yang didapatkannya itu, pekerjaan yang alhamdulillah cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Lima tahun ia jalani pekerjaan itu dengan tekun dan bahagia.

Tahun 2015 sebuah peristiwa biasa yang tak disangka terjadi padanya. Anaknya mendapat giliran Selasan di rumahnya. Selasan adalah tahlilan untuk anak-anak di desa yang dilaksanakan setiap malam selasa. Sebagai hidangan, Pak Dzaki membuatkan mie ayam untuk para peserta acara. Tak disangka, banyak anak dan orang tuanya yang menyukai hidangan itu. Beberapa orang malah menyarankan Pak Dzaki membuka warung Mie Ayamnya sendiri karena di Dusun Soko Kulon belum ada yang menjualnya.

Dari saran-saran itu, Pak Dzaki akhirnya memutuskan untuk berani membangun usaha mandiri. Dengan modal sedikit yang ia punya, dibantu isterinya, Mbak Fat, ia membangun warung mie ayam sederhana di pertigaan jalan di desa. Tidak hanya mie ayam, warung ini juga menjual gorengan dan aneka aneka minuman.

Pada awal memulai usaha, warung mie ayamnya tidak langsung laris terjual. Masih banyak pembeli yang complain dengan rasa mie ayamnya. Pak Dzaki sangat terbuka menerima semua kritik dengan senang. Baginya, kritik dan saran adalah berkah yang dapat membuat usahanya cepat berkembang.

Dengan tekun, ia terus mencoba membuat rasa mie ayam lebih enak, sesuai dengan lidah orang-orang di desa. Lambat laun, rasa mie ayam Pak Dzaki menemukan ciri khasnya. Ciri khas rasa dengan cita rasa yang sesuai dengan seleras lidah masyarakat.

Pelanggan mie ayam Pak Dzaki semakin hari semakin banyak. Tidak hanya karena rasaya yang enak, namun juga pelayanan yang diberikan Pak Dzaki kepada para pembeli juga maksimal. Setiap pembeli yang datang, ia sambut dengan senyuman bahagia. Pembeli juga dapat memesan mie ayam lewat telpon atau SMS yang nomor kontaknya ia tulis dengan cat di warungnya. Pak Dzaki siap mengantarkan pesanan ke rumah para pembeli. Bahkan sering ia mengantarkan mie ayamnya ke sawah, ke tempat para petani yang sedang beristirahat. Prinsip usaha Pak Dzaki adalah membahagiakan pembelinya. Dan alhamdulillah hampir semua pelangganya puas.

Pak Dzaki selalu bersyukur berapapun hasil yang didapatkannya. Alhamdulillah setiap harinya 60an mangkok mie ayam habis terjual.  Sebagai bentuk rasa syukurnya itu, ia selalu menyisihkan sebagian uang yang didapatkannya untuk bersedekah. Baik disumbangkan untuk kegiatan di masjid, atau untuk orang-orang lain di desa yang membutuhkan.

Sebagian hasil pendapatannya juga ia sisihkan untuk menabung. Ia bercita-cita membuka cabang warung mie ayamnya agar bisa membantu orang-orang di desa yang membutuhkan pekerjaan.

Aku pun bergetar mendengar cerita Pak Dzaki sore tadi.

Sokorini, 4 Februari 2019.

_______________

#MasihBelajar #TerusBergerak
#KebangkitanIndonesiadariDesa

Sokorini.com
Seribu Cerita dari Desa

. . . . . . . . . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *